Saat diturunkannya berita ini wekz wartawan kali, saya sudah ditemani segelas teh hangat *secangkir kurang^_^* setelah sebelumnya ……
………
Dering ponsel suamiku berbunyi, oh rupanya sahabatnya meneleponnya. Telepon itu segera diberikan kepadaku. Wah, pasti new job nih.
Singkat cerita, aku harus segera meluncur ke suatu daerah yang juga masih di wilayah Bekasi. Aku harus menggantikan seorang guru privat yang berhalangan hadir *padahal ini new class dia lho*. Walhasil kelas itu diberikan kepadaku.
Bersyukur sore itu, aku sudah selesai mengajar murid-murid yang kebetulan datang ketempatku. So, cuma butuh waktu 20 menit, aku sudah segera berada di rumah murid privat baruku itu *dengan ngebut- lewat jalur cepat alias jalur keluar masuk kampung dan komplek perumahan*. hehe …
Singkat cerita ,aku selesai mengajar selepas maghrib. Sewaktu dijalan, hujan baru rintik-rintik. So far aku begitu menikmati perjalanan pulangku. Seperti kebanyakan orang, aku juga sangat menyukai hujan , apalagi yang rintik-rintik ketika diperjalanan motor. Aku terus melaju bersama sepeda motorku sambil melantunkan dzikir karena juga bersyukur karena baru saja dapat job tambahan baru. Menjelang hampir pertengahan jalan, rupanya hujan semakin deras. Untuk berjaga-jaga, aku segera mengenakan jas hujanku. Jarak rumahku masih kurang lebih setengah perjalanan lagi, jadi hujan rintik ini bisa cukup membasahi jaketku jika ku tidak mengenakan jas hujanku, pikirku. Benar saja. Hujan semakin deras. Teringat tadi sewaktu mengajar, suamiku sempat menelepon apakah disana hujan deras, aku disuruh ‘tuk berhati-hati. Hujan masih belum begitu deras ketika kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan. Ditengah guyuran hujan yang semakin deras, tiba-tiba …lho…..ini motor kenapa?ya h, yah…, koq jalannya jadi “ngambeg-ngambek gitu sih, duh ….,please “jangan ngambek” disini ya, aku menggumam sendiri dalam hati pada motorku. Entahlah apa dia mengerti ucapanku. Ya Allah jangan sampai terjadi apa-apa.
Perjalanan terus kulanjutkan, hujan semakin menjadi. Aku tetap saja menerobos jalanan yang penuh dengan hujan. Sesungguhnya aku juga suka hujan, tapi ketika hujannya deras begini plus ditambah motor yang “tidak bersahabat” aku jadi trauma,
dikarenakan motorku pernah mati total tidak bisa jalan karena kehujanan, hiks hiks sampai-sampai motornya mesti dititipin dan diambil esok harinya.:) Lucunya saat itu aku juga tengah mengajar di tengah kawasan ini. 3 tahun yang lalu, dan kini aku kembali ketempat ini, …….jadi nostalgia, hehe, hujan pun juga turut mengingatkan kembali kenangan masa lalu penuh suka duka mengajar di kawasan timur bekasi ini.
Balik lagi tentang cerita perjalananku menembus hujan
Jalan yang aku lewati saat aku berangkat dan pulang mengajar ini adalah “jalan tembus” alias jalur motong, alias lewat perkampungan, disamping adem dan sejuk juga demi mencegah hadangan lampu merah. TApi, ketika pulangnya kini, baru kusadari ada yang Beda. Jelas saja beda, karerna biasanya aku tidak pernah melewati daerah yang satu ini di hari gelap dan ketika hujan deras. Kalo saat tidak hujan, sepertinya tidak terhitung jari… Kalau hujan rintik-rintik?? masih di bisa dihitung jari!!^_^. Kurasakan daerah yang kulalui begitu senyap, ditemani lingkung pepohonan khas daerah kampung. Tidak ada orang yang lewat. Hanya satu – dua kendaraan motor yang lalu lalang. Menelusuri kelokan demi kelokan jalan yang sunyi ditambah derasnya guyuran hujan, plus motor yang kurang “bersahabat” membuat suasana yang lain daripada yang lain. Jika tidak hujan, melewati daerah ini biasa-biasa saja walaupun dimalam hari. Jalanan kampung itu begitu sepi. Hujan terus mengguyur. Aku hanya bisa berdo’a agar bisa segera sampai kerumah. Sudah tidak terhitung berapa kali motor ku “hidup segan mati tak mau” hehe . TApi rupanaya pilihanku tidak salah, aku masih lebih beruntung -alhamdulillah memilih jalanan ini. Lewat jalanan kampung yang alhamdulillahnya sudah diaspal ini, tidak terlalu banyak kendaraan lho. Tidak terpikir jika aku mengambil arah jalur kalimalang yang pastinya disesaki kendaraan yang baru saja pulang dari kantor. Belum lagi ditambah hujan yang membuat jalanan macet menjadi tambah macet plus lampu merah yang senantiasa “setia” melaksakan tugasnya. Wuih..,jika tiba-tiba saja motorku mogok ditengah kendaraan yang tengah ramai macet, “stress” kali ya:(. Semasa perjalanan, aku menjaga mulut ini agar tidak “memaki”. walo perasaan tak menentu terus menggelayuti, aku bingung padahal motor ini senantiasa di servis. Aku tepis pikiranku, aku tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Kembali aku segera fokus pada kendaraanku. Aku tidak berharap motor ini mati total selama diperjalanan, sedangkan perjalanan sampai rumahku masih terlampau jauh jika aku harus menuntun kendaraanku. Biasanya kalau hujan deras begini, aku pastinya tidak diijinkan untuk keluar oleh suamiku. *Berhubung hujannya sesudah selesai mengajar, yah ….., bagaimana lagi??* Eniwei, my husband keep on supporting me as long as I can keep my self. *thanks hubby for your prayer*
Selesai melewati daerah perkampungan, kini tiba aku masuk kembali kejalan raya yang akan menghubungkanku masuk ke daerah perumahan. Itu bukan rumah dimana aku tinggal, hanya jalan tembusan yang membuat perjalananku lebih dekat. Aku agak sedikit deg-deg karena motor ini kadang suka mati mendadak ditengah-tengah. Aku berusaha untuk jalan dipinggir, agar tidak mengagetkan pengendara lain dibelakang manakala motorku mati mendadak. Tapi, tetap saja adakalanya aku harus ketengah untuk mengambil belokan kekanan, dan tiba-tiba berhenti mendadak. Panik sempat. Apalagi ditambah pengendara lain yang tidak mengetahui kendaraanku yang hanya bisa memaki. Ya Allah, tolonglah aku.
Alhamdulillah, kali ini kendaraanku mulai memasuki wilayah komplek perumahan K*m*ng Pr*tama Bekasi. Daerah dengan deretan rumah luas nan megah dengan deretan pepohonan yang rimbun pun tak cukup membuat ku nyaman melihat sekelilingnya. sepi. Ya komplek itu juga nampak sepi ditambah sepanjang jalan digenangi lumayan air. Hujan memang cukup lebat dan Deras. Kupacu motorku, namun sia-sia. Lagi-lagi motorku mogok. Duh, aku takut saja kalau ada orang iseng menghadangku ditengah “cobaan” yang tengah menimpaku. Di sebelah ujung sana biasanya suka mangkal para tukang ojeg. Entahlah apa ada orang berkumpul disana. Ataukah orang iseng?? *nau’dzubillah* Tapi aku tidak berusaha melihat sekelilingnya. Aku berusaha tidak grogi dan segera menyalakan motorku. Berharap tidak ada orang yang melihat keadaanku yang H2C *Harap-harap Cemas* Entahlah ya saudara-saudara, trauma itu memang sukar sekali hilangnya. Kadang bisa muncul begitu saja dengan instans, Kecemasanku timbul takut kalau-kalau motor mogok. Disatu sisi aku tidak ingin merepotkan orang lain, terutama suamiku. Lagi-lagi aku berharap agar Allah menyegerakan aku sampai kerumah dengan selamat agar suamiku tidak perlu repot-repot menjemputku. Dengan apa pula menjemputku??, duh suamiku do’akan istrimu.
Biasanya aku tidak pernah mengalami hal ini. Motor ngadat di tengah hujan. Keputusanku meneruskan perjalanan karena aku terbiasa menerjang hujan deras , wonder woman kali. Dan memang hujan kali ini benar-benar deras. Mau berteduh juga tanggung, jas hujanku rupanya juga tidak cukup tebal, Yang kupakai memang bukan jas hujan jenis ponco. Apa yah kusebut jas hujan ini, yang seperti gamis itu alias yang terusan, karena katanya yang model ponco agak berbahaya. Well jas hujan yang kukenakan ini memang kurang cukup mampu melindungi jika harus “melawan” hujan deras ini sehingga aku merasa sebagian jaketku kebasahan. Aku hanya ingin segera sampai dirumah. Ingin merasakan hangatnya teh manis hangat, kehangatan baiti jannati dan tentu saja suamiku yang pasti h2C menungguku dirumah.
Sedikit lagi akusampai insyaAllah. Keluar dari gerbang kemang pratama, aku insyaAllah sampai rumahku. MAsih menyusuri jalan Aku sudah tidak sabar untuk menceritakan pengalamanku pada suamiku. Sesampainya di pintu rumah, suamiku sudah menyambut sambil H2C juga. Kuperhatikan pagar pintu masuk rumahku sedikit tergenangi air hujan, memang hujannya cukup deras. Alhamdulillah aku sudah sampai …
Selesai masuk kerumah, suamiku segera jadi “montir” dadakan. Dibersihkannya komponen-komponen motor. Memang akhir-akhir ini kendaraan intens kita gunakan. Wah, musim hujan ini sepertinya kita harus lebih sering mengecek motor kita.
Selesai bebersih diri, aku segera membuat teh hangat. ADa tukang gorengan lewat, suamiku tahu saja kesukaanku. Dingin-dingin gini, emang cocok banget minum teh hangat ditemani gorengan:) *asal jangan keseringan tak apalah*
Tidak berselang kemudian, suamiku mesti berkemas pergi. Kali ini, gantian suamiku yang harus berangkat mengajar. Yah ….lagi-lagi motor kami harus dengan setia mengantarkan pemilikya. Jadwal mengajar suamiku malam hari ini rupanya tidak digentarkan oleh cuaca walaupun baru saja istrinya mengalami hal tidak mengenakan. Ku do’akan moga kau selamat sampai tujuan suamiku…
Langit nampak cerah seiring keberangkatan suamiku. Rupanya “beban berat” awan sudah habis tertumpahkan tadi semasa perjalananku:). Hujannya memang sungguh melimpah, alhamdulillah tanpa di iringi angin ataupun petir yang menakutkan, kuyakin ini berkah dari Nya. …
so…., WElcome the Rain aja sobat-sobat!:) Be more prepare ya!!

belum ngerjakan PR .. repot