..Katakanlah : “Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, Sesungguhnya aku akan bekerja (pula), Maka kelak kamu akan mengetahui (QS : 39 : 39).
Iman akan terasa kelezatannya manakala secara aktual dimanifestasikan dalam bentuk amal sholeh yaitu suatu bukti wujud aktivitas kerja kreatif, yang ditempa oleh semangat dan motivasi tauhid untuk mewujudkan identitas dan cita-citanya yang luhur sebagai umat yang terbaik (kuntum khoiro ummah ukhrijat linnasi).
Pada saat yang bersamaan kitapun sadar, bahwa islam bukanlah hanya sekedar seperangkat konsep ideal, tetapi juga suatu amal praktikal yang akan tetap aktual, Islam bukan sekedar agama langit, tetapi sekaligus agama yang dapat membumi.
Itulah sebabnya, penghargaan Islam terhadap budaya kerja bukan hanya sekedar pajangan alegoris, penghias retorika, pemanis bahan pidato, indah dalam pernyataan tapi kosong dalam kenyataan.
Bekerja adalah fitrah dan sekaligus merupakan salah satu identitas manusia, sehingga bekerja yang didasarkan pada prinsip-prinsip iman tauhid, bukan saja menunjukkan fitrah seorang muslim, tetapi sekaligus meninggikan martabat dirinya sebagai “Abdullah” (hamba Allah)” yang mengelola seluruh alam sebagai bentuk dari cara dirinya menysukuri kenikmatan dari Allah Rabbul ‘Alamin.
Apabila bekerja itu adalah fitrah manusia, maka jelaslah bahwa manusia yang enggan bekerja, malas dan tidak mau mendayagunakan seluruh potensi diri untuk menyatakan keimanan dalam bentuk amal kreatif, sesungguhnya dia itu melawan fitrah dirinya sendiri, menurunkan derajat identitas dirinya sebagai manusia, untuk kemudian runtuh dalam kedudukan yang lebih hina dari binatang.
”Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir” (QS : 17 : 176)
Kesadaran bekerja mempunyai dua dimensi yang berbeda menurut takaran seorang muslim, yaitu bahwa makna dan hakekat “bekerja” adalah fitrah manusia yang secara niscaya, sudah seharusnya demikian. Manusia hanya bisa memanusiakan dirinya lewat bekerja. Sedangkan kesadaran bekerja akan melahirkan suatu improvements untuk meraih nilai yang lebih bermakna, dia mampu menuangkan idenya dalam bentuk perencanaan, tindakan, serta melakukan penilaian dan analisa tentang sebab dan akibat dari aktivitas yang dilakukannya.
Dengan cara pandang seperti ini, sadarlah bahwa setiap muslim tidaklah akan bekerja hanya sekedar mendapat materi, mendapat gaji, dapat surat pengangkatan atau sekedar gengsi supaya tidak disebut sebagai penganggur. Karena, kesadaran bekerja secara produktif serta dilandasi semangat tauhid dan tanggung jawab uluhiyah merupakan salah satu cirri yang khas dari karakter atau kepribadian seorang muslim.
Bekerja untuk mencari fadhilah karunia Allah, menjebol kemiskinan, meningkatkan taraf hidup dan martabat serta harga diri adalah merupakan nilai ibadah yang esensial, karen Nabi bersabda : “Kemiskinan itu sesungguhnya lebih mendekati kepada kekufuran”.
Konotasi dan pengertian bekerja hendaknya jangan ditafsirkan sebagai penerima upah belaka atau jangan pula diartikan bahwa bekerja itu adalah setara atau ekuivalen dengan bekerja secara formal bagaikan seorang pegawai yang kemudian merasa berbangga-bangga karena sudah mempunya baju seragam, padahal tidak menunjukkan prestasi apa-apa. Bekerja adalah segala aktivitas dinamis dan mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan tertentu (jasmani dan rohani),dan dalam mencapai tujuannya tersebut dia berupaya dengan penuh kesungguhan untuk mewujudkan prestasi yang optimal sebagai bukti pengabdian dirinya kepada Allah SWT.
Ajaran sunnah yang mengatakan :”tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah”, seakan-akan menghantui diri seorang muslim, menggedor dan menggapai-gapai untuk selalu tampil sebagai subjek yang terbaik. Dia akan merasa nista apabila dalam hidupnya tak mampu memberikan makna pada lingkungannya, bahkan dia merasa tak berharga apabila harus hidup sebagai benalu yang hidupnya statis apabila harus menjadi peminta-minta. Terkenanglah kita akan ucapan nabiyullah Muhammad SAW :
“Andainya seseorang mencari kayu bakar dan dipikulkan diatas punggungnya, hal itu lebih baik daripada ia meminta-minta pada seseorang yang kadang-kadang diberi , kadang pula ditolak” (Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim).
Dengan pernyataan hadits diatas, maka tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk menganggur, apalagi menjadi manusia yang jumud kehilangan semangat inovatif. Karena sikap hidup yang tak memberikan makna apalagi menjadi beban dan peminta-minta, pada hakekatnya merupakan kehinaan yang durjana.
Seorang muslim menyadari bahwa dirinya hanya berharga apabila dia berkarya, mencipta dan mampu memberikan arti kepada lingkunganny. Maka terkenanglah akan nasihat sabda suci Rasulullah SAW yang mengatakan : “Bahwa mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah”.
Seorang muslim tidak pernah bercita-cita untuk menjadi tipe manusia lemah, karena disadarinya bahwa kelemahan merupakan jodoh paling setia dengan sang pengecut yang akan melahirkan anak cucu pemalas yang berbakat pengemis.
Bagi seorang muslim, justru kebahagiaan hidup akan terasa berbinar-binar, manakalah dirinya mampu memberikan arti dan manfaat. Salah satu kebahagiaannya yang paling berbunga apabila dirinya mampu mengangkat yang lemah, membagi cahaya bagi mereka yang kegelapan, menjadi tongkat bagi mereka yang buta, dan kalau perlu tampillah dia sebagai pohon yang rindang di tengah padang tandus untuk tempat penghentian dan berlindungnya para musafir yang kepanasan dan ingin melepas rasa lelah dan dahaganya.
Dengan demikian, makna hidup bagi seorang muslim bukanlah hanya sekedar survival for the fittest, sekedar untuk mempertahankan eksistensi, tetapi lebih dari sekedar jasadi, hidup bagi seorang muslim mempunyai nilai ibadah yang esensi.
Etos kerja seorang muslim akan tampak dalam sikap dan tingkah lakunya yang dilandaskan pada suatu keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu merupakan bentuk ibadah, suatu panggilan dan perintah Allah yang akan memuliakan dirinya, memanusiakan dirinya sebagai bagian dari manusia pilihan (khoiroh ummah).
( H. Syamsul Bahri, S.Kom, MM)

Mantab mas, setuju banget. Semua bisa kita niati untuk ibadah
ADuuh koq mas sih ,aku kan perempuan gitu lho.:)
*celingak -celinguk* .hehe.
IYa, subhanallah ya tulisan Bpk H.Syamsul diatas itu.makanya saya berniat share untuk semua:). Buat “bahan bakar” diri saya dan suami juga , heHE:D