Namanya Miftah. (bukan nama sebenarnya). Dia baru saja menikah. Syukur alhamdulillah.
Awal pernikahannya itu memang seperti kebanyakan pasangan pada umumnya. Mereka hidup dalam kesederhanaan. Tetapi sebagai pasangan muda, mereka masih perlu bimbingan. Ada kalanya keinginan untuk memiliki barang-barang harus dipikirkan matang-matang, mengingat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja mereka sudah harus memutar otak untuk tetap bisa survive sampai akhir bulan.
Gaji Miftah yang baru setaraf karyawan percobaan -membuat sang istri harus pintar-pintar dan sabar mengatur keuangan.
Salah satu permasalahan pelik pertama yang mereka hadapai disaat awal pernikahan itu adalah ketika mereka berdua harus memilih sebuah pilihan tentang bagaimana cara terbaik untuk memiliki sebuah kendaraan pribadi.
Bukan mobil, apalagi pesawat J, tetapi hanya sebuah motor.
Ya, motor. Pekerjaan sang suami yang memang selalu berada di lapangan, menuntutnya untuk memiliki kendaraan itu. Tetapi, bagaimana?
Pada saat itu, ada tiga pilihan yang bisa ia tempuh untuk mendapatkan motor tersebut.
- Membelinya tunai *jika uangnya ada*
- Membelinya kredit *jika tidak punya cukup tabungan*
- Mencari motor gadaian. *jika punya cukup tabungan*
Membeli tunai, siapapun ingin melakukannya. Dengan melakukannya tidak akan terjebak dengan namanya cicilan demi cicilan yang bunganya saja membuat susah tidur. Membli kredit adalah pilihan yang kalau bisa dihindari.
Lebih baik menunda dulu untuk memiliki benda tersebut,agar terhindar dari bunga cicilan. Jika uang yang kita miliki bisa dibuat untuk usaha lain yang bernilai lebih besar dari bungan cicilan, why not?. Tetapi juga, membeli barang secara kredit tidak buruk-buruk amat, asal kita tahu untuk apa dan bagaimana cara melakukan cicilan tersebut.
Membeli barang dengan mencicil masih lebih bagus jika memang barang yang kita beli bernilai produktif, artinya memang dibeli untuk menghasilkan sesuatu, alias sebagai sarana transportasi kerja.
Tetapi, diantara ketiga pilihan itu, pilihan nomor tiga, menurut Rima – sang kakak- adalah yang paling moderat. Disatu sisi kita tidak akan terjerat dengan bunga hutang, – yang membuat hidup tak tenang- dan sebaliknya di sisi lain kita malah memiliki tabungan dimotor tersebut. Untuk bisa memiliki motor gadaian syaratnya memang kita harus memiliki tabungan sejumlah nilai motor gadaian tersebut. Yah, jauh lebih banyak dibandingkan DP motor dengan nilai standar pada umumnya.
Sang istri rupanya setuju. Namun, Miftah nampak ragu. Jiwa mudanya yang ingin mendapatkan barang-barang serba baru *termasuk baru saja dapat istri baru* , ia juga tidak ingin dipusingkan manakala orang yang menggadaikan motornya padanya tiba-tiba mengambil motornya dan mengembalikan uangnya. Lho, semua kan bisa dibicarakan?? Sudah seharusnya ada perjanjian kapan motor itu akan ditebus, dan manakala motor itu mau ditebus atau setidaknya dibicarakan jauh-jauh hari jika memang ada sesuatu kepentingan mendesak atau yang lainnya.
Rupanya, saran sang kakak masih “kurang mengena” dihatinya. Miftah masih bersikeras untuk mengambil motor baru lewat cicilan.
Rima hanya bisa menghela nafas. Entah fikiran apa yang membuat sang adik tetap tidak bisa melihat sisi baik dari penawaran yang diberikan kakaknya. Padahal dia rela menggadaikan mahar yang ia miliki ditambah sedikit tabungan yang ia miliki, demi membantu mengatasi keuangan perekonomian sang adik tercinta. InsyaAllah nanti , tidak sampai akhir bulan sudah bisa di tebus kembali –saat gajian datang. Dan kemudian adiknya tinggal membayar cicilan kepadanya seperti ketika dia membayar cicilan motor pada dealer. Tapi kalo ini tanpa bunga.
Sekali lagi sang kakak menawarkan kebaikannya.
Namun, lagi-lagi hanya ketakutan motornya diambil tiba2 oleh yang punya motor, begitu alasan Miftah.
Ya. dia menolak tawaran baiknya kakaknya.
Sang kakak begitu menyayangkan pilihan adiknya yang bisa jadi membawa kesulitan baginya dikemudian hari.
Jelas-jelas gajinya tidak akan cukup membiayai cicilan motor dan biaya bulanan mereka. Rima geram dengan ulah teman adiknya yang memuluskan jalan adiknya mendapat cicilan motor tersebut.
Satu hal yang perlu digaris bawahi, Sungguh, Berani itu bukan nekat!. Tawakal juga bukan pasrah. Adakah kita memahami hal itu?
Kita diberi akal oleh sang pencipta untuk menimbang dan berusaha, kenapa dia mau “menceburkan” dirinya??
Rima sudah menasehati, agar Miftah jangan gegabah dalam membuat keputusan keuangan, karena hal itu akan menyangkut banyak orang yang menjadi tanggungannya.
Nasehat Rima hanya sebatas nasehat saudara kepada saudaranya. Adapun keputusan tetap ditangan sang adik. Rima tidak bisa berbuat banyak, dia yakin adiknya sudah besar, apalagi sebagai kepala keluarga, biarlah dia yang bertanggung jawab atas keputusannya.
Tetapi, jujur , jauh didalam lubuk hati Rima, dia masih menyangsikan, apakah motor itu akan terus dibayar cicilannya ataukah akan diambil ditengah jalan –oleh dealer ?
6 Bulan sejak pernikahannya dan juga motor cicilan itu di ambilnya secara kredit, akhirnya permasalahan yang ditakuti itu datang menghampiri. Rupanya, ia sudah 2 bulan nunggak ciccilan.
Ada rasa kecewa, sedih dan juga tidak tega terhadap adiknya. Antara ingin memberi pelajaran terhadap adiknya agar dia bertanggung jawab dengan keputusn yang ia buat, bertabrakan dengan rasa tidak tega. Ia tidak bisa melihat saudara akan terus berada dalam jerat kesusahan tidak berkesudahan. Ini harus segera diakhiri. Motor yang ada padanya ibarat borok yang akan terus menggerogoti kakinya, artinya harus segera diamputasi. Aku harus memberi solusi untuk permasalahannya. Gumam Rima.
Sesudah kumpul keluarga. Akhirnya diputuskan rencana 6 bulan lalu untuk mengambil motor gadaian disetujuinya. Entahlah, apakah manusia itu harus mengalami kejadian pahit dulu baru dia akan memahami petunjuk/arti kebenaran sesungguhnya ? Bukankah sudah dinasehati dari dahulu agar ia mengambil motor gadaian saja??
Kenapa bersikeras dengan ego yang tidak bisa dipertanggungjawabkan?.
4 bulan cicilan sebesar masing-masing 500 ribu hangus begitu saja seiring dengan motor yang akhirnya ditarik dealer. Nasi sudah menjadi bubur, kita tidak boleh terus menyesali apa yang sudah terjadi. Yang terbaik adalah menata diri dan hati kita dengan terus merencanakan yang terbaik.
Alhamdulillah, 6 bulan berikutnya berlalu. Cicilan yang dia bayarkan pada Rima- sang kakak akhirnya lunas sudah. Ada rasa lega bercampur bahagia. Kini ia memiliki tabungan berupa motor lewat motor gadaian. Sedikit lagi saja tabungan dia dapatkan, dia sudah bisa menggantinya dengan membeli sebuah motor second layak pakai.
Barangkali anda pernah mengalami hal yang sama?? Semoga bisa menjadi renungan dan pembelajaran.

Assalammualaikum,
Mungkin ini termasuk “menyesal datangnya pasti belakangan”.
Terima kasih udah bagi2 ilmu.
Salam sukses